Jl. Pondok Pucung Raya No 88

Bintaro Sektor 9

Pondok Aren-Tangerang Selatan

Indonesia

15229

Kegiatan Mendidik Pra Sekolah Dasar

Oleh Ani (Fasilitator TK Sekolah Alam Bintaro)

Usia anak balita sering disebut sebagai masa yang sangat berharga bahkan dikenal sebagai
golden age, diusia ini otak anak mulai berkembang secara optimal. Dimana anak akan menyerap lebih banyak informasi yang mereka dapatkan. Maka akan sayang sekali jika di tahapan ini tidak dimanfaatkan dengan baik.

Banyak orangtua yang menekankan pembelajaran kognitif untuk memanfaatkan golden age ini. Tidak salah memang, namun akan lebih baik jika diusia ini anak dkenalkan pada pembelajaran akhalak yang mana ini akan membekas nantinya sampai mereka dewasa.

Masa anak-anak adalah masanya bermain, oleh karenanya terapkanlah permainan-permainan yang memang dapat menstimulus organ-organ mereka.

Di Sekolah Alam Bintaro tempat saya mengajar ini, pembiasaan akhlak sangat ditekankan. Pembiasaan akhlak ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, contohnya :

1.     Mengucapkan salam

Pertama kali saya mengajar disini, saya heran ada beberapa anak yang nampaknya masih canggung untuk mengucapkan salam terlebih pada orang yang mereka anggap asing. Padahal di sekolah ini ada peraturan untuk selalu mengucapkan salam, ternyata anak-anak ini memang terbiasa mengucapkan salam ketika di kelas, namun tidak terbiasa melakukannya pada orang asing apalagi untuk anak-anak yang baru masuk seperti di kelas ke TK A, bagi mereka yang tidak ikut Kelompok bermain di sekolah ini tentu semua guru adalah orang asing. Oleh karenanya, ketika saya ditugaskan mengajar di TKA saya coba ajarkan mereka untuk ramah bukan pada orang yang mereka kenal saja, namun pada semua warga sekolah yang mereka temui juga. Langkah awalnya ketika akan masuk kelas mereka diajak untuk mengucapkan “Assalamualaikum”. Kebanyakan diantara mereka masih malu-malu sampai hanya diam saja ketika gurunya mendampingi mengucapkan salam, atau ada juga yang berusaha mengucapkan salam dengan suara yang kecill. Namun apapun yang terjadi tak masalah, karena ini hanya butuh pembiasaan. Ada anak yang cepat untuk melakukannya ada juga yang membutuhkan waktu yang lama. Selain salam diawal masuk kelas, saya ajak pula anak-anak untuk bersalaman tidak hanya dengan gurunya tapi juga dengan teman-teman yang sudah tiba dikelas duluan. Setelah itu lanjut ke tahap berikutnya, beri pengertian pada mereka untuk selalu memberi salam pada setiap orang yang mereka temui ketika tiba di sekolah. Semua civitas sekolah tentu akan senang jika disapa anak
setiap pagi, dengan seperti ini diharapkan banyak energi positif untuk memulai hari.

2.     Pembiasaan Mengantri

Dalam setiap kegiatan sekolah biasakanlah anak untuk tertib dan belajar mengantri.. Awalnya ini juga terasa begitu sulit karena pasti ketika kita atur untuk mengantri akan ada saja anak yang berlari atau mencari permainan lain apalagi anak-anak yang tergolong kinestetik. Namun lagi-lagi ini butuh pembiasaan dan kesabaran gurunya untuk selalu memberi pengertian pada mereka.

3.     Mengajarkan tanggungjawab

Ajarkan pula untuk bertanggungjawab terhadap apa yang sudah mereka lakukan, misalkan membereskan pencil, buku yang sudah mereka pakai atau membereskan tempat makan mereka dan menyimpannya kembali ke tas. Awalnya ketika kita ajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya saja terasa susah, namun lagi-lagi berilah mereka pengertian dan tunggu sampai mereka benar-benar membuang sampah itu pada tempatnya.

Hal terpenting dari pengajaran akhlak ini adalah perlunya kesabaran dan lakukan berulang ulang secara konsisten. Selain pembiasaan diatas, bahasa dan konsep matematika dan sosial juga kita terapkan dalam setiap permainan edukatif. Disini ada beberapa contoh untuk pengenalan bahasa dan angka.

1.     Pengenalan bahasa

Biasanya anak-anak lancar ketika diajak berbicara dua arah apalagi oleh orang yang sudah dekat dengan mereka. Tapi cobalah untuk mengajarkan berbicara didepan kelas juga.

Nama kegiatan ini “Morning Talk”. Senin pagi sebelum memulai kegiatan ajaklah anak untuk berbicara di depan kelas, ini akan melatih keberanian serta verbal mereka. Temanya mudah saja, karena kebanyakan sabtu minggu itu mereka liburan bersama keluarga, maka suruhlah anak-anak untuk menceritakan kegiatan apa yang mereka lakukan selama liburan. Biasanya anak akan lebih antusias menceritakan dirinya, hanya saja mungkin mereka akan nampak kesulitan dalam merangkai kata. Oleh karena itu penting bagi guru untuk membantu memancing dengan pertanyaan. Pernah ada satu anak yang cenderung pendiam tidak mau bicara saat kegiatan “morning talk” ini. Namun saat mendengar temannya bercerita dan mereka rasa pernah melakukan hal yang sama dengan apa yang diceritakan temannya, mereka akan langsung berteriak bahwa mereka juga pernah melakukan itu. Ketika ini terjadi pancinglah mereka untuk bicara. Lambat laun anak yang tergolong sulit untuk menyampaikan ide pun akan terpancing untuk mengatakan beberapa kata.

Sedangkan untuk pengenalan huruf dapat dilakukan dengan cara menuliskan nama mereka di meja belajar dan loker mereka. Dengan sering melihat tulisan itu mereka akan tahu bentuk huruf yang ada di nama mereka. Untuk mengetesnya bisa dilakukan dengan permainan “Tebak huruf”. Caranya tulislah nama mereka pada selembar kertas asturo dengan ukuran huruf yang besar. Kemudian acaklah dimeja kelas dengan posisi telungkup. Setelah itu suruhlah beberapa anak untuk mencari bentuk dari huruf yang ada dinama mereka. Disini akan terlihat siapa yang sudah tahu bentuk hurufnya atau belum.

Meski diusia ini anak belum bisa membaca, namun ajarkanlah anak untuk mencintai buku. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengunjungi perpustakaan dan memilih buku apapun yang mereka suka. Anak tidak akan segan untuk meminta dibacakan pada gurunya. Oleh karena itu guru juga dapat menjadikan buku sebagai media untuk mendongeng. Dengan bantuan gambar dan ekspresi dari guru biasanya anak akan tertarik untuk mendengarkan cerita.

2.     Pengenalan angka

Kebetualan di  sekolah tempat saya mengajar anak-anaknya sudah dapat berhitung dari satu sampai sepuluh. Namun mereka tidak tahu bentuk dari angkanya itu sendiri. Untuk mengenalkan angka seperti ini saya mengajak anak untuk bermaian “Menyusun angka”. Sebagai kegiatan awal ajaklah anak untuk bermain diluar ruangan. Awalnya saya menyiapkan angka dari satu sampai sepuluh. Kemudian saya juga menyiapkan satu papan yang saya tempelkan 10 kantung-kantung plastik bening. Nantinya papan ini akan saya simpan diujung yang berlainan dari tempat duduk anak-anak. Saya kumpulkan anak-anak dibawah pohon lalu saya beri arahan tentang apa yang akan kita lakukan saat ini. Setelah itu saya simpan angka 1-10 didepan mereka, dijarak sekitar 2 meter dari angka itu saya simpan papan tadi. Setelahnya anak-anak secara berpasangan diminta untuk mengambil angka didepan mereka lalu mereka harus berlari dan menyusun angka yang mereka pegang sesuai urutannya. Lakukan kegiatan ini sampai 10 angka berhasil mereka susun.

Konsep dasar matematika juga bisa dipelajari dengan memahami besar kecil dan panjang pendek. Untuk pemahaman ini saya menggunakan media daun dan ranting sebagai medianya. Ajaklah mereka untuk mencari tiga daun, setelah mereka mendapatkan tiga daunnya suruh mereka untuk menempelkan daun itu pada selembar scrap paper mulai dari daun yang paling kecil sampai daun yang paling besar. Setelah selesai, ajaklah anak untuk kembali mencari tiga ranting yang berbeda ukuran, lalu suruh mereka untuk menyusunnya mulai dari yang terpendek hingga terpanjang.

Kegiatan yang berkaitan dengan fisik ini tentunya akan menarik perhatian anak-anak apalagi jika dilakukan di luar ruangan, anak tidak mersa bahwa dia sedang belajar melainkan hanya bermain-main. 

3.     Melatih kecerdasan emosional

Untuk melatih kecerdasan sosial mereka bisa dilakukan dengan permainan secara kelompok, contohnya saja “Bermain treasure hunt”. Saya menggabungkan permainan ini dengan pelajaran matematika. Dimana sebelumnya saya tempelkan beberapa bentuk geometri di pohon-pohon besar yang ada dilapangan outbound sekolah. Setelah itu buatlah anak-anak kedalam beberapa kelompok lalu beri meraka misi untuk menemukan bentuk geometri yang ada disana, setelah itu tiap-tiap bentuk geometri yang mereka dapatkan ditempelkan pada koran bekas secara perkelompok lalu tempel di dinding kelas agar mereka bangga akan usaha mereka.

Selain permainan diatas, kenalkan pula anak-anak pada pemahaman akan makna lampu lalu lintas. Ini bisa dilakukan dengan bermain peran. Tugaskan tiga anak untuk menjadi rambu-rambu lalu lintas dan beri masing-masing dari mereka kertas origami berwarna merah, kuning dan hijau. Beri tugas pula pada 2 anak untuk menjadi polisinya sedangkan sisanya ada yang menjadi motor dam mobil. Tugas guru adalah memberi aba-aba dan menyebutkan nama lampu, misalkan ketika guru bilang “lampu merah” maka anak yang memegang lampu merah akan mengangkat kertas origaminya dan anak-anak yang berperan jadi kendaraan wajib berhenti. Jika ada yang melanggar maka tugas polisilah untuk menangkapnya. Lakukan ini berulang-ulang dan beri kesempatan pada setiap anak untuk berganti peran.

Bermain adalah hak yang harus dilakukan oleh seorang anak, namun sebagai pendidik kita harus dapat menerapkan permainan yang bermakna nantinya untuk anak-anak tanpa membebani pikiran mereka. Dengan kegiatan pembelajaran seru seperti inilah In sya Allah akan membantu anak untuk siap masuk ke sekolah dasar.